Panduan Upacara

Order Detail
PANDUAN
LOMBA TATA UPACARA BENDERA
(LTUB)




Disusun Oleh :
SD NEGERI HEGARMANAH


PUSAT PEMBINAAN PENDIDKAN TK/SD
KECAMATAN CAMPAKA

untuk lebih lengkapnya bisa download file di bawah nie....!!
- JADWAL LTUB DAN WAWASAN WIYATAMANDALA
- LTUB
- LTUB PANDUAN TEKNIS 1
- LTUB PANDUAN TEKNIS 2
- LTUB PLUS
- LTUB Proposal
- Panduan Upacara Hegarmanah
- Pembina Upacara
- Proposal Upacara

selamat mencoba...........

PANDUAN USULAN DAN LAPORAN PTK

Order Detail
PEDOMAN
PENYUSUNAN USULAN

PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)













TAHUN ANGGARAN 2005











DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI
2004

PANDUAN
PENYUSUNAN USULAN DAN LAPORAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)
TAHUN ANGGARAN 2005

1. Latar Belakang
Peningkatan mutu pendidikan dapat dicapai melalui berbagai cara, antara lain: melalui peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, pelatihan dan pendidikan, atau dengan memberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran dan nonpembelajaran secara profesional lewat penelitian tindakan secara terkendali. Upaya meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan lainnya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi saat menjalankan tugasnya akan memberi dampak positif ganda. Pertama, peningkatan kemampuan dalam menyelesaikan masalah pendidikan dan pembelajaran yang nyata. Kedua, peningkatan kualitas isi, masukan, proses, dan hasil belajar. Ketiga, peningkatan keprofesionalan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Keempat, penerapan prinsip pembelajaran berbasis penelitian.
Upaya peningkatan kemampuan meneliti di masa lalu cenderung dirancang dengan pendekatan research-development-dissemination (RDD). Pendekatan ini lebih menekankan perencanaan penelitian yang bersifat top-down dan bersifat kuat orientasi teoritiknya. Paradigma demikian dirasakan tidak sesuai dengan perkembangan pemikiran baru, khususnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Pendekatan MPMBS menitikberatkan pada upaya perbaikan mutu yang inisiatifnya berasal dari motivasi internal pendidik dan tenaga kependidikan itu sendiri (an effort to internally initiate endeavor for quality improvement), dan bersifat pragmatis naturalistik.
MPMBS mengisyaratkan pula adanya kemitraan antar jenjang dan jenis pendidikan, baik yang bersifat praktis maupun dalam tataran konsep. Kebutuhan akan kemitraan yang sehat dan produktif, yang dikembangkan atas prinsip kesetaraan sudah sangat mendesak. Kemitraan yang sehat antara LPTK dan sekolah adalah sesuatu yang penting, lebih-lebih lagi dalam era otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan. Penelitianpun hendaknya dikelola berdasarkan atas dasar kemitraan yang sehat (kolaboratif), sehingga kedua belah pihak dapat memetik manfaat secara timbal balik (reciprocity of benefits).
Melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran dapat dikaji, ditingkatkan dan dituntaskan, sehingga proses pendidikan dan pembelajaran yang inovatif dan hasil belajar yang lebih baik, dapat diwujudkan secara sistematis. Upaya PTK diharapkan dapat menciptakan sebuah budaya belajar (learning culture) di kalangan dosen di LPTK, dan guru-siswa di sekolah. PTK menawarkan peluang sebagai strategi pengembangan kinerja, sebab pendekatan penelitian ini menempatkan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya sebagai peneliti, sebagai agen perubahan yang pola kerjanya bersifat kolaboratif.


2. Tujuan
a. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah (SD, SMP, SMA dan SMK).
b. Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas.
c. Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
d. Menumbuh-kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah dan LPTK, sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan (sustainable).
e. Meningkatkan keterampilan pendidik dan tenaga kependidikan khususnya di sekolah dalam melakukan PTK.
f. Meningkatkan kerjasama profesional di antara pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah dan LPTK.

3. Bidang Kajian Penelitian Tindakan Kelas
a. Masalah belajar siswa di sekolah (termasuk di dalam tema ini, antara lain: masalah belajar di kelas, kesalahan-kesalahan pembelajaran, miskonsepsi).
b. Desain dan strategi pembelajaran di kelas (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi dalam metode pembelajaran, interaksi di dalam kelas, partisipasi orangtua dalam proses belajar siswa).
c. Alat bantu, media dan sumber belajar (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah penggunaan media, perpustakaan, dan sumber belajar di dalam/luar kelas, peningkatan hubungan antara sekolah dan masyarakat).
d. Sistem asesmen dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen asesmen berbasis kompetensi).
e. Pengembangan pribadi peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya (termasuk dalam tema ini antara lain: peningkatan kemandirian dan tanggungjawab peserta didik, peningkatan keefektifan hubungan antara pendidik- peserta didik dan orangtua dalam PBM, peningkatan konsep diri peserta didik).
f. Masalah kurikulum (termasuk dalam tema ini antara lain: implementasi KBK, urutan penyajian materi pokok, interaksi guru-siswa, siswa-materi ajar, dan siswa-lingkungan belajar).

4. Luaran Penelitian Tindakan Kelas
Luaran umum yang diharapkan dihasilkan dari PTK adalah sebuah peningkatan atau perbaikan (improvement and theraphy), antara lain sebagai berikut.
a. Peningkatan atau perbaikan terhadap kinerja belajar siswa di sekolah.
b. Peningkatan atau perbaikan terhadap mutu proses pembelajaran di kelas.
c. Peningkatan atau perbaikan terhadap kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, dan sumber belajar lainnya.
d. Peningkatan atau perbaikan terhadap kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa.
e. Peningkatan atau perbaikan terhadap masalah-masalah pendidikan anak di sekolah.
f. Peningkatan dan perbaikan terhadap kualitas penerapan kurikulum dan pengembangan kompetensi siswa di sekolah.


5. Pengusul Penelitian Tindakan Kelas
a. Semua dosen LPTK (keguruan dan non keguruan) negeri maupun swasta dari semua program studi yang berkolaborasi dengan guru (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK) di sekolah/madrasah.
b. Khusus untuk dosen LPTK non keguruan dapat mengusulkan PTK dengan catatan mereka harus berkolaborasi dengan guru bidang studi di sekolah.
c. Para dosen LPTK yang tidak sedang terikat Kontrak Kerja Penelitian dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Menristek (dibuktikan dengan Surat Keterangan dari Lemlit), atau tidak sedang studi lanjut (dibuktikan dengan Surat Keterangan Dekan).

6. Kolaborasi dalam Penelitian Tindakan Kelas
a. Permasalahan penelitian tindakan kelas harus digali atau didiagnosis secara kolaboratif dan sistematis oleh dosen dan guru dari masalah yang nyata dihadapi guru dan/atau siswa di sekolah. Masalah penelitian bukan dihasilkan dari kajian teoretik atau dari hasil penelitian terdahulu, tetapi masalah lebih ditekankan pada permasalahan aktual pembelajaran di kelas.
b. Penelitian ini bersifat kolaboratif, dalam pengertian usulan harus secara jelas menggambarkan peranan dan intensitas masing-masing anggota pada setiap kegiatan penelitian yang dilakukan, yaitu: pada saat mendiagnosis masalah, menyusun usulan, melaksanakan penelitian (melaksanakan tindakan, observasi, merekam data, evaluasi, dan refleksi), menganalisis data, menyeminarkan hasil, dan menyusun laporan akhir.
c. Dalam PTK, kedudukan dosen setara dengan guru, dalam arti masing-masing mempunyai peran dan tanggungjawab yang saling membutuhkan dan saling melengkapi untuk mencapai tujuan.


7. Jangka Waktu dan Biaya Penelitian
Usulan penelitian disusun untuk kegiatan selama 10 bulan (persiapan sampai dengan pelaporan hasil). Biaya penelitian untuk setiap usulan maksimum Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah), yang rinciannya terdiri dari:
a. Honorarium Ketua Peneliti dan anggota (tidak melebihi dari 30% total biaya usulan).
b. Biaya operasional kegiatan penelitian di sekolah (minimum 30% dari total biaya).
c. Biaya perjalanan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan, termasuk biaya perjalanan anggota peneliti ke tempat penelitian.
d. Lain-lain pengeluaran (dokumentasi, laporan, photocopy, dan lainnya).


8. Kriteria Seleksi
Usulan penelitian akan diseleksi secara ketat oleh Tim Pakar dari perguruan tinggi yang ditunjuk oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi (Dit.PPTK dan KPT). Kriteria evaluasi terhadap usulan penelitian PTK mencakup :
a. Perumusan Masalah (terutama: asal, relevansi, dan cakupan permasalahan).
b. Cara Pemecahan Masalah (terutama: rancangan tindakan, dan kontekstualitas tindakan, kriteria keberhasilan sebuah tindakan).
c. Kemanfaatan Hasil Penelitian (terutama: potensi untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas isi, proses, masukan, atau hasil pembelajaran dan/atau pendidikan).
d. Prosedur Penelitian (terutama: prosedur diagnosis masalah, perencanaan tindakan, prosedur pelaksanaan tindakan, prosedur observasi dan evaluasi, prosedur refleksi hasil penelitian).
e. Kegiatan Pendukung (terutama: jadwal penelitian, sarana pendukung pembelajaran masing-masing anggota penelitian dalam setiap kegiatan penelitian, dan kelayakan pembiayaan).

9. Pemantauan Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas
Pemantauan terhadap pelaksanaan penelitian akan dilakukan oleh Tim yang ditunjuk oleh Dit.PPTK dan KPT, Ditjen Dikti menjelang penulisan laporan akhir penelitian. Pelaksanaan pemantauan akan dikoordinasikan oleh Lembaga Penelitian masing-masing LPTK sebagai penanggungjawab kontrak penelitian di perguruan tinggi negeri maupun swasta.
Monitoring akan diselenggarakan dengan mempergunakan Format Pemantauan Penelitian Tindakan Kelas yang dikeluarkan oleh Dit.PPTK dan KPT (terlampir).

10. Tata Cara Pengajuan Usulan Penelitian

10.1. Cara Pengajuan Usulan Penelitian
a) Diajukan lewat Lembaga Penelitian, diketahui oleh Kepala Sekolah yang bersangkutan.
b) Jumlah anggota maksimal 2 (dua) orang dari LPTK dan 3 (tiga) orang dari guru, atau seorang dosen dari LPTK dan 2 (dua) orang guru.
c) Masing-masing LPTK maksimal boleh mengajukan 15 usulan (penyimpangan/kelebihan dari ketentuan ini otomatis akan mengakibatkan LPTK ybs akan didiskualifikasi).
d) Seleksi awal terhadap usulan dosen dari LPTK dilaksanakan oleh masing-masing Lemlit dengan memperhatikan secara sungguh-sungguh Panduan Penyusunan Proposal PTK dan Buku Petunjuk Pelaksanaan PTK yang disusun oleh Dit.PPTK dan KPT. Berita acara seleksi perlu dilampirkan.
e) Seorang peneliti (dosen/guru) hanya diperbolehkan terlibat dalam satu PTK atau RII, baik sebagai ketua maupun anggota, sehingga tidak diperkenankan merangkap.
10.2 Usulan dibuat dalam rangkap 3 (tiga) dengan sampul (cover) berwarna Biru Muda dan dikirimkan ke Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi, Lt.4, Jalan Pintu 1, Senayan-Jakarta oleh masing-masing LPTK Pengusul.
10.3 Usulan yang tidak memenuhi ketentuan di atas akan didiskualifikasi dan usulannya tidak diperiksa.
10.4 Usulan penelitian harus sudah diterima di Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi paling lambat 27 Januari 2005 dalam rangkap 3 (tiga) dengan kertas HVS ukuran A-4 dan fonts 12 bertipe Times New Roman.


Lampiran : A.1 Cover Biru Muda

CONTOH KULIT MUKA USULAN PENELITIAN





USULAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Logo
Perguruan Tinggi

JUDUL PENELITIAN


Oleh :
......................................*)
FAKULTAS
INSTITUT /UNIVERSITAS
Bulan, Tahun


*) Tuliskan semua nama pengusul lengkap dengan gelar akademik

HALAMAN PENGESAHAN
USULAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)

1. Judul Penelitian


2. Ketua Penelitian
a. Nama Lengkap dan Gelar
b. Jenis Kelamin
c. Pangkat dan Golongan dan NIP
d. Fakultas/Jurusan
e. Institut/Universitas
f. Alamat rumah:
Nomor telepon/HP:
Email:
3. Jumlah Anggota Peneliti ............... orang
4. Lama Penelitian .................. bulan/dari
bulan .............. sampai
bulan ...................
5. Biaya yang diperlukan
a. Sumber dari Dikti Depdiknas
b. Sumber lain (sebutkan .........),
Jumlah
Rp
Rp
Rp
(.........................................)
..........................................................
Mengetahui
Dekan Fakultas

Cap dan tanda tangan
(....................................)
NIP...............................
Ketua Peneliti,

Tanda tangan
(....................................)
NIP...............................
Menyetujui :
Ketua Lemlit

Cap dan tanda tangan
(....................................)
NIP...............................

SISTEMATIKA USULAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)

A. JUDUL PENELITIAN
Judul hendaknya singkat dan spesifik tetapi cukup jelas menggambarkan masalah yang akan diteliti dan tindakan untuk mengatasi masalahnya.
B. BIDANG KAJIAN
Tuliskan bidang kajian penelitian
C. PENDAHULUAN
Penelitian dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Kemukakan secara jelas bahwa masalah yang diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di sekolah, dan diagnosis dilakukan oleh guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah. Masalah yang akan diteliti merupakan sebuah masalah penting dan mendesak untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian tersebut. Setelah diidentifikasi masalah penelitiannya, maka selanjutnya perlu dianalisis dan dideskripsikan secara cermat akar penyebab dari masalah tersebut. Penting juga digambarkan situasi kolaboratif antar anggota peneliti dalam mencari masalah dan akar penyebab munculnya masalah tersebut. Prosedur yang digunakan dalam identifikasi masalah perlu dikemukakan secara jelas dan sistematis.
D. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH
1. Perumusan Masalah
Rumuskan masalah penelitian dalam bentuk suatu rumusan penelitian tindakan kelas. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan dilakukan dan hasil positif yang diantisipasi dengan mengajukan indikator keberhasilan tindakan, dan cara pengukuran serta cara mengevaluasinya.
2. Pemecahan Masalah
Uraikan alternatif tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah. Pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti, hendaknya sesuai dengan kaidah penelitian tindakan kelas. Cara pemecahan masalah ditentukan berdasarkan pada akar penyebab permasalahan dalam bentuk tindakan (action) yang jelas dan terarah.
3. Tujuan Penelitian
Kemukakan secara singkat tentang tujuan penelitian yang ingin dicapai dengan mendasarkan pada permasalahan yang dikemukakan. Tujuan umum dan khusus diuraikan dengan jelas, sehingga diukur tingkat pencapaian keberhasilannya.
4. Kontribusi Hasil Penelitian
Uraikan kontribusi hasil penelitian terhadap kualitas pendidikan dan/atau pembelajaran, sehingga tampak manfaatnya bagi siswa, guru, maupun komponen pendidikan di sekolah lainnya. Kemukakan inovasi yang akan dihasilkan dari penelitian ini.
E. KAJIAN PUSTAKA
Uraikan dengan jelas kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari usulan rancangan penelitian tindakan. Kemukakan juga teori, temuan dan bahan penelitian lain yang mendukung pilihan tindakan untuk mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Pada bagian akhir dapat dikemukakan hipotesis tindakan yang menggambarkan indikator keberhasilan tindakan yang diharapkan/diantisipasi.
F. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
Uraikan secara jelas prosedur penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan objek, waktu dan lamanya tindakan, serta lokasi penelitian secara jelas. Prosedur hendaknya dirinci dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus. Tunjukkan siklus-siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan indikator keberhasilan yang dicapai dalam setiap siklus sebelum pindah ke siklus lain. Jumlah siklus diusahakan lebih dari satu siklus, meskipun harus diingat juga jadwal kegiatan belajar di sekolah. Dalam rencana pelaksanaan tindakan pada setiap tahapan hendaknya digambarkan peranan dan intensitas kegiatan masing-masing anggota peneliti, sehingga tampak jelas tingkat dan kualitas kolaborasi dalam penelitian tersebut.
G. JADWAL PENELITIAN
Buatlah jadwal kegiatan penelitian yang meliputi perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil penelitian dalam bentuk Gantt chart. Jadwal kegiatan penelitian disusun selama 10 bulan.
H. BIAYA PENELITIAN
Kemukakan besarnya biaya penelitian secara rinci dengan mengacu kepada kegiatan penelitian.
Rekapitulasi biaya penelitian:
• Honorarium ketua, anggota maksimal 30%
• Biaya operasional minimal 30 %
• Biaya pembelian ATK maksimal 30%
• Lain-lain pengeluaran 10%
I. PERSONALIA PENELITIAN
Jumlah personalia penelitian maksimal 5 orang, yang terdiri dari : 1 orang Ketua Peneliti (dosen LPTK), 4 orang anggota peneliti yang dapat terdiri dari 1 orang dosen LPTK dan 3 orang guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah, atau 4 orang guru/tenaga kependidikan di sekolah. Jumlah guru minimal 2 orang dan harus lebih banyak dari jumlah dosen. Uraikan peran guru, jumlah waktu yang digunakan dalam setiap bentuk kegiatan penelitian yang dilakukan. Penelitian ini sekurang-kurangnya dilakukan oleh 3 orang peneliti, yang 1 orang sebagai Ketua Peneliti (dosen LPTK) dan 2 orang guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah. Rincilah nama personalia tim peneliti, golongan, pangkat, jabatan, dan lembaga tempat tugas, sama dengan yang tercantum dalam Lembar Pengesahan no.2.

Lampiran-lampiran
1. Daftar Pustaka, yang dituliskan secara konsisten menurut model APA, MLA atau Turabian.
2. Riwayat Hidup Ketua Peneliti dan Anggota Peneliti (Cantumkan pengalaman penelitian yang relevan sampai saat ini).

Lampiran : A.2 Cover Biru Muda
LAPORAN AKHIR PENELITIAN TINDAKAN KELAS




LAPORAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS


Logo
Perguruan Tinggi


JUDUL PENELITIAN


Oleh :
.....................................*)

dibiayai oleh :
..........................................................................................
Dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian Nomor
..........................................................................................

Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi (PPTK dan KPT)
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional

FAKULTAS
INSTITUT/UNIVERSITAS
Bulan, Tahun

*) Tuliskan semua nama peneliti lengkap dengan gelar akademik


HALAMAN PENGESAHAN
USULAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)

1. Judul Penelitian


2. Ketua Penelitian
a. Nama Lengkap dan Gelar
b. Jenis Kelamin
c. Pangkat dan Golongan dan NIP
d. Fakultas/Jurusan
e. Institut/Universitas
f. Alamat rumah:
Nomor telepon/HP:
Email:
3. Jumlah Anggota Peneliti ............... orang
4. Lama Penelitian .................. bulan/dari
bulan .............. sampai
bulan ...................
5. Biaya yang diperlukan
c. Sumber dari Depdiknas
d. Sumber lain (Sebutkan .........)
Jumlah
Rp
Rp
Rp
(.........................................)
.................................................................
Mengetahui
Dekan Fakultas

Cap dan tanda tangan
(....................................)
NIP...............................
Ketua Peneliti,

Tanda tangan
(....................................)
NIP...............................
Menyetujui :
Ketua Lemlit

Cap dan tanda tangan
(....................................)
NIP...............................


SISTEMATIKA LAPORAN AKHIR HASIL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)

Lembar Judul Penelitian i
Lembar Indentitas dan Pengesahan ii
Abstrak iii
Daftar Isi vi
Daftar Tabel v
Daftar Gambar vi
Daftar Lampiran vii
I. Pendahuluan
II. Kajian Pustaka
III. Pelaksanaan Penelitian
IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan
V. Simpulan dan Saran
Daftar Pustaka
Lampiran:
Instrumen penelitian ........................................................................................
Personalia tenaga peneliti................................................................................
Riwayat hidup masing-masing personalia penelitian


Penjelasan Komponen Pokok Laporan Penelitian Tindakan Kelas
1. Abstrak
Menguraikan dengan ringkas unsur-unsur permasalahan, tujuan, prosedur dan hasil penelitian
2. Pendahuluan
Memuat unsur latar belakang masalah, data awal tentang permasalahan pentingnya masalah dipecahkan, identifikasi masalah, analisis dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta definisi istilah bila dianggap perlu.
3. Kajian Pustaka
Menguraikan teori terkait dan temuan penelitian yang relevan yang memberi arah ke pelaksanaan PTK dan usaha peneliti membangun argumen teoritik bahwa dengan tindakan tertentu dimungkinkan dapat meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan dan pembelajaran, bukan untuk membuktikan teori. Bab ini diakhiri dengan pertanyaan penelitian dan/atau hipotesis tindakan.
4. Pelaksanaan Penelitian
Mengandung unsur: deskripsi lokasi, waktu, mata pelajaran, karakteristik siswa di sekolah sebagai subjek penelitian. Kejelasan tiap siklus: rancangan, pelaksanaan, cara pemantauan beserta jenis instrumen, usaha validasi hipotesis dan cara refleksi. Tindakan yang dilakukan bersifat rasional dan feasible serta collaborative.
5. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Menyajikan uraian masing-masing siklus dengan data lengkap, mulai dari perencanaan, pelaksanaan pengamatan dan refleksi yang berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan dan kelemahan yang terjadi. Perlu ditambahkan hal yang mendasar yaitu hasil perubahan (kemajuan) pada diri siswa, lingkungan, guru sendiri, motivasi dan aktivitas belajar, situasi kelas, hasil belajar. Kemukakan grafik dan tabel secara optimal, hasil analisis data yang menunjukkan perubahan yang terjadi disertai pembahasan secara sistematik dan jelas.
6. Kesimpulan dan Saran
Menyajikan simpulan hasil penelitian (potret kemajuan) sesuai dengan tujuan penelitian. Berikan saran tindak lanjut berdasarkan pembahasan hasil penelitian.
7. Daftar Pustaka
Memuat semua sumber pustaka yang digunakan dalam penelitian secara alphabetis.
8. Lampiran-Lampiran
Memuat instrumen penelitian, personalia tenaga peneliti, riwayat hidup masing-masing peneliti, data penelitian, dan bukti lain pelaksanaan penelitian.



Evaluasi Usulan Penelitian Tindakan Kelas :

Kode Usulan :
Nama Pengusul :
Perguruan Tinggi :
Judul :

Kriteria Penilaian
No Kriteria Acuan Bobot Score Nilai
1 Masalah yang diteliti • Masalah nyata, jelas mendesak
• Peneliti berwenang memecahkan masalah dilihat dari kemampuan, waktu, sarana, prasarana
• Rumusan masalah jelas
• Identifikasi penyebab masalah jelas 25
2 Cara pemecahan masalah • Menunjukkan akar penyebab masalah
• Pilihan tindakan untuk memecahkan masalah dalam bentuk PTK/CAR 10
3 Luaran Penelitian • Secara jelas tampak indikator keberhasilan
• Potensial memperbaiki proses dan hasil pendidikan/pembelajaran
• Peningkatan kualitas penggunaan metoda, media, alat dan sumber belajar 20
4 Orientasi Penelitian • Keterkaitan judul, permasalahan, kajian pustaka, dan metodologi, serta hasil yang diharapkan
• Permasalahan didukung data yang aktual
• Orisinalitas penelitian (bukan merupakan pengulangan) 15
5 Prosedur • Ketepatan dan kejelasan tahapan tiap siklus
• Kesesuaian dengan langkah PTK
• Mencakup lebih dari satu siklus
• Ketepatan instrumen dan cara merekam hasil tindakan
20
6 Umum • Judul jelas memperlihatkan masalah dan tindakan yang akan dilakukan
• Kesesuaian personalia
• Kewajaran biaya dan waktu penelitian 10

Setiap kriteria diberi skor 1, 2, 4 dan 5
Sangat kurang skor 1
Kurang skor 2
Baik skor 4
Sangat baik skor 5

Nilai : Bobot x skor :
Batas Penerimaan (Passing grade) : 350

Hasil penilaian : (Diterima / Ditolak)
Alasan Penolakan : (uraikan secara singkat dan padat)
....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................…………………………………………………..
................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................…………………………………………………......
......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................…………………………………………………................
.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................…………………………………………………...............................


.........................., tanggal...................................
Penilai


(........................................................)

FORMAT PENILAIAN
HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Nama penelitian :
Perguruan Tinggi :
Bidang Studi :
Judul Penelitian :
KRITERIA PENILAIAN
No Kriteria Aspek yang Dinilai Bobot Score Nilai
A ABSTRAK
Terlihat jelas 3 unsur pokok:
• latar belakang,tujuan,
• prosedur dan
• hasil 5
B PENDAHULUAN
Terlihat unsur-unsur berikut
• Latar belakang (deskripsi masalah, data awal yang menunjukkan akar terjadinya masalah, deskripsi lokasi dan waktu, pentingnya masalah dipecahkan)
• Rumusan masalah
• Tujuan
• Manfaat 15
C KAJIAN TEORI/ PUSTAKA
• Ada teori-teori terkait yang memberi arah/petunjuk kepada pelaksanaan PTK
• Ada usaha-usaha penulis membangun argumen teoretik bahwa tindakan tertentu dimungkinkan bisa meningkatkan mutu KBM
• Pertanyaan penelitian/hipotesis tindakan (kalau perlu) 20
D PELAKSANAAN PENELITIAN
• Deskripsi tahapan siklus penelitian.
• Penggunaan instrumen, usaha validasi hipotesis tindakan, dan cara refleksi 15
• Tindakan yang dilakukan bersifat:
o Rasional, artinya berbasis pada akar penyebab masalah
o Feasible (dapat dilaksanakan-tidak ambisius), artinya tindakan tersebut terdukung oleh faktor-faktor waktu, biaya dan sarana/pra-sarana
o Collaborative, artinya dosen memaksimalkan kerja sama dengan guru sebagai mitra setara.
• Jumlah siklus lebih dari satu

E HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Disajikan dalam bentuk siklus dengan data lengkap:
Siklus I
• Perencanaan: diuraikan TINDAKAN yang khas yang dilakukan terlihat bedanya dengan pembelajaran biasa.
• Pelaksanan: diuraikan pelaksanaan tindakan
• Pengamatan: disajikan hasil pengamatan dari berbagai instrumen. Hasil authentik disajikan
• Refleksi: berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan dan kelemahan dan rencana berikutnya . MENGAPA BERHASIL (TIDAK), APA YANG PERLU DILAKUKAN UNTUK SIKLUS BERIKUTNYA. 25
Siklus II (idem)
Siklus III (idem)
Perlu ditambahkan hal-hal yang mendasar berikut ini:
• Disajikan hasil perubahan (kemajuan) pada diri peserta didik, lingkungan dan peneliti
• Tabel, grafik/statistik deskriptif dioptimalkan
• Terdapat analisis data menyajikan perubahan pada peserta didik, lingkungan kelas/sekolah dan peneliti.
• Triangulasi dioptimalkan untuk memvalidasi potret proses dan hasil perubahan (kemajuan)
• Pembahasan
• Ada ulasan tentang perubahan yang dihasilkan dari tiap siklus dan keseluruhan siklus
F KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
• Hasil riset (potret kemajuan) sesuai dengan tujuan
• Ada saran untuk riset, tujuan riset, dan hasil riset (potret kemajuan)
• Ada saran untuk penerapan hasil (suggestion) 10

H DAFTAR PUSTAKA DAN LAMPIRAN
• Penulisan sesuai aturan APA, MLA, Turabian secara konsisten.
• Kelengkapan lampiran 10
Jumlah Total 100

Setiap kriteria diberi scor : 1. 2. 4. 5.
Kurang sekali : skor 1
Kurang : skor 2
Baik : skor 4
Baik sekali : skor 5
Nilai : Bobot x skor

Jakarta, .................
Penilai

( .............................)
Lampiran C. Format Pemantauan PTK
FORMAT PEMANTAUAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)

1. a. Perguruan Tinggi
b. Fakultas
c. Jurusan/Program Studi : …………………………………………………
:…………………………………………………
:…………………………………………………
2. Nama Peneliti
a. Ketua Peneliti
b. Anggota Peneliti
:…………………………………………………
:1…………………………………………………
2…………………………………………………
3…………………………………………………
3. Judul Penelitian ………………………………………………
…………………………………………………
…………………………………………………
4. Biaya Penelitian :Rp………………………………………………
(…………………………………………………)
5. Mitra Penelitian
a. Sekolah
b. Alamat
:…………………………………………………...
:……………………………………………………
…………………………………………………….
6. Pelaksanaan Penelitian
a. Tanggal mulai
b. Tanggal selesai
c. Jumlah kelas yang digunakan
d. Tingkatan kelas
:…………………………………………………
:…………………………………………………
:…………………………………………………
:………………………………………………….
7. Peranan Lemlit di PT
a. Seleksi proposal penelitian
b. Menyelenggarakan seminar proposal
c. Memantau pelaksanaan penelitian
d. Menyelenggarakan seminar hasil
penelitian
e. Menggandakan dan mengirimkan
laporan penelitian
f. Meminta artikel kepada peneliti
g. Memberikan layanan lain, sebutkan… …………………………………………..
a. Ya/Tidak *)
b. Ya/Tidak *)
c. Ya/Tidak *)
d. Ya/Tidak *)

e. Ya/Tidak *)

f. Ya/Tidak *)
g. Ya/Tidak *)
8. Kesesuaian pelaksanaan penelitian dengan usul:
Jenis Kesesuaian
a. Mitra Sesuai/Menyimpang *)
b. Bentuk Sesuai/Menyimpang *)
kolaborasi
c. Waktu Sesuai/Menyimpang *)
pelaksanaan
d. Bahan/ Sesuai/Menyimpang *)
Alat/Media
e. Metode yg Sesuai/Menyimpang *)
digunakan
f. Peneliti Sesuai/Menyimpang *)

Kekurangan
:……………………………………………………
:……………………………………………………

:……………………………………………………

:……………………………………………………

:……………………………………………………

:……………………………………………………


9. Masalah lain yang dihadapi peneliti (kesibukan guru, kesibukan dosen, keadaan peralatan/media,dsb) …..…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
10 Penilaian umum terhadap pelaksanaan penelitian
a. Peneliti/Pelaksana:
• Kegiatan di kelas
• Kegiatan di laboratorium
• Komunikasi dengan mitra
b. Temuan/hal yang baru/inovasi dalam proses penelitian:
c. Keberhasilan yang dicapai:
• Indikasi keberhasilan (prestasi belajar siswa, motivasi belajar, sikap,dsb)
• Data pendukung

d. Mitra
• Kondisi sarana/peralatan
• Kontribusi dalam pelaksanaan penelitian


• Baik/Tidak baik *)
• Baik/Tidak baik *)
• Baik/Tidak baik *)
………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………….
……………………………………………………

……………………………………………………
……………………………………………………

• Baik/Tidak baik *)
• Baik/Tidak baik *)
11. Rencana tindak lanjut (follow up)
a. Melanjutkan kegiatan penelitian
tindakan kelas
b. Diseminasi kepada guru lain
c. Menulis hasil penelitian menjadi karya
tulis ilmiah
d. Memperbaiki buku ajar
e. Lain, sebutkan…………………………
• Ya/Tidak *)

• Ya/Tidak *)
• Ya/Tidak *)

• Ya/Tidak *)
• ………………………………………………..
12. Rencana publikasi:
a. Peneliti :
b. Guru mitra:
:……………………………………………………
…………………………………………………….
13. Cara pemantauan: [ ] Wawancara
[ ] Peninjauan ke lokasi penelitian
[ ] Melihat data, foto, atau rekaman
[ ] Laporan penelitian
[ ] Lain-lain, sebutkan
14. Kesimpulan umum:
a. Pelaksanaan penelitian telah selesai :
b. Bila belum 100 % selesai, tahapan
penelitian yang akan diselesaikan,
sebutkan:
a…………………%
b………………………………………………….
………………………………………………….
…………………………………………………
15. Gambaran umum dan saran
penyelesaian/ perbaikan penelitian:
…………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………
……………………………………………………
………………...............2005
Ketua Lembaga Penelitian Pemantau,
……………………………………,


(…………………………………….) (…………………………………….)

Catatan : *) Coret yang tidak perlu.

download file documennya disini
- Pentingnya administrasi pada manajemen pendidikan
- Pentingnya tenaga administrasi untuk sekolah dasar

PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS DI KELAS IV SEKOLAH DASAR

Order Detail
A. Judul Skripsi
Pendekatan Konstruktivisme Untuk Meningkatkan Pemahaman Konseptual Siswa Dalam Pembelajaran IPS Di Kelas IV Semester II Sekolah Dasar.

B. Latar Belakang Masalah
Ilmu pengetahuan Sosial adalah salah satuh mata pelajaran yang wajib diberikan. Pendidikan IPS di SD meliputi dua kajia pokok yaiyu pengetahuan sosial dan sejarah. Bahkan kajian pengetahuan sosial meliputi lingkungan social, ilmu bumi, ekonomi, dan pemerintahan. Bahkan kajiannya meliputi perkembangan masyarakat Indonesia sejak lampau hinggah sekarang.
Kenyataanya, sekarang pelajaran ilmu pengetahuan sosial seolah-olah hanya bersifat pengetahuan saja, sehingga asing bagi kehidupan sehari-hari, guru jarang mengaitkan pengetahuan yang dipelajari dihubungkan dengan fenomena sehari-hari. Disamping itu guru dalam mengajarkan suatu topik IPS, mereka kurang paham apa manfaat siswa belajar topik IPS tersebut bagi kehidupan anak.
Jika dilihat dari pelaksanaan proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas ada beberapa masalah yang sering muncul dalam pembelajaran antara lain kurangnya pemahanan siswa pada konsep-konsep yang ada, kurangnya antusias siswa untuk mempelajari pelajaran tersebut, siswa nampak jenuh, pembelajaran bersifat pasif sehingga apabila guru tidak dapat mengatasi masalah tersebut dapat mengganggu pembelajaran yang berlangsung.


Kenyataan ini didukung oleh kajian empirik dilapangan banyak sorotan dan kritik yang menyatakan bahwa kualitas pembelajaran masih banyak dilakukan secara informatif hanya gurulah yang mendominasi iklim pembelajaran dikelas, siswa hanya bersifat pasif dan hanya menunggu apa yang akan disampaikan oleh guru sehingga spontanitas siswa untuk berbicara tertekan dan ide-idenya akhirnya hilang sebelum di ungkapkan.
Glaserfeld mengemukakan bahwa bahwa pengetahuan itu adalah konstruksi (bentukan) diri sendiri. Pernyataan ini menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan tetapi akibat dari suatu kontruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang.
Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran sangat penting peranannya dalam keberhasilan pencapaian tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Untuk itu maka pembelajaran yang diciptakan guru untuk menumbuh kembangkan potensi anak melalui pendekatan pembelajaran perlu untuk dipahami dan dikuasai guru dalam proses pembelajaran.
Dengan demikian untuk bisa menjawab permasalahan yang maka diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang tepat guna untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Salah satuh pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan keterlibatan siswa dalam proses belajar adalah pambelajaran kontruktivisme


C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas secara mendasar permasalahan umum dalam penelitian ini adalah “ Bagaimana Pendekatan Konstruktivisme Untuk Meningkatkan Pemahaman konseptual Siswa Pada Pembelajaran IPS Dalam Di SD Kelas IV Semester II. “
Dari masalah pokok di atas, kemudian diuraikan lagi menjadi sub-sub permasalahan berikut ini di antaranya adalah :
1. Bagaimana meningkatkan Pemahaman Konseptual dengan menggunakan pendekatan kontruktivisme ?
2. Bagaimana aktivitas belajar siswa dengan menggunakan pendekatan kontruktivisme ?
3. Bagaimana hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan kontruktivisme dalam pembelajaran IPS ?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud untuk mengupayakan pendekatan kontruktivisme dalam pembelajaran IPS di SD dengan harapan untuk lebih meningkatkan pemahaman dan aktivitas belajar siswa dalam memahami konsep-konsep yang dipelajarinya dalam IPS.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
a. Untuk meningkatkan pemahaman konseptual siswa SD dalam pembelajaran IPS melalui pendekatan kontruktivis.
b. Untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa SD dalam pembelajaran IPS melalui pendekatan konruktivis.
c. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa SD dengan menggunakan pendekatan kontruktivis.
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi Siswa
1. Dengan menggunakan pendekatan kontruktivisme siswa diharapkan bisa lebih berani untuk mengeluarkan konsep dan gagasan yang dimilikinya
2. Dengan menggunakan pendekatan kontruktivisme aktivitas belajar siswa diharapkan akan lebih meningkat dan siswa lebih terlibat dalam proses pembelajaran.
b. Bagi Guru
1. Guru dapat menambah wawasan pengetahun dan kemampuan dalam pengembangan model-model pembelajaran siswa aktif.
2. Guru dapat menambah motivasi untuk bisa mencari dan menerapkan model-model pembelajaran yang ada.
c. Bagi Sekolah
1. Dapat memberikan masukan yang positif bagi sekolah sehingga dapat meningkatkan kualitas pengelolaan pembelajaran.
2. Dapat memberikan masukan kepada guru-guru yang lain untuk mencoban menerapkan model pembelajaran kontruktivis.
E. Kerangka Teoritis dan Hipotesis Tindakan
1. Kerangka Teoritis
a. Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi material, faslitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Ilmu pengetahuan Sosial adalah mata pelajaran yang mengkaji kehidupan sosial yang bahannya didasakan pada kajian sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi dan tata Negara, IPS yang diajarkan di SD terdiri atas dua bahan kajian pokok : pengetahuan sosial dan sejarah. Bahan kajian pengetahuan sosial mencakup antropoloti, sosiologi, geografi, ekonomi dan tata Negara. Bahan kajian sejarah meliputi perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lampau hingga masa kini (Dik Das Men, 1999 : 14).
Pembelajaran IPS di SD tidak bersifat keilmuan tetapi bersifat pengetahuan dimana bahan yang diajarkan pada siswa bukan teori-teori sosial atau ilmu sosial melainkan hal praktis yang berguna bagi dirinya dan lingkungannya.
Yang paling utama kita menitikberatkan pembelajaran IPS pada jenjang pendidikan sekolah dasar. Sebagaimana yang kita ketahui. Bahwa Tujuan pendidikan IPS di SD adalah agar siswa mampu mengembangkan pemahaman tentang perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lampau dan masa sekarang. (Istianti, dkk 2005 : 55).
Pendidikan IPS di SD menuntut proses pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif terlibat di dalamnya. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran diperlukan sebuah pendekatan yang dapat merangsang siswa untuk aktif. Pendekatan kontruktivisme merupakan salah satu dari pendekatan yang dapat mendukung kegiata tersebut.

b. Pendekatan Kontruktivisme
Kontruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontektual. Pengetahuan dibangun oleh siswa melalui kegiatan eksplorasi dan diskusi degan temannya. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diangkat, tetapi siswa harus mengkonstruki pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Glaserfeld mengemukakan bahwa “Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan itu adalah konstruksi (bentukan) diri sendiri. Pernyataan ini menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan tetapi akibat dari suatu kontruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang.
Karli dan margaretha (2002) menegaskan bahwa pendekatan kontruktivisme dalam pembelajaran adalah suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur kognitif yang telah dimilikinya. Pendidik lebih berperang sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran,

Nuhadi menyatakan delapan prinsip pembelajaran kontruktivisme yakni sebagai berikut.
1) Melakukan hubungan yang bermakna.
2) Melakukan kegiatan yang signifikan.
3) Belajar yang diatur sendiri.
4) Bekerja sama.
5) Berpikir kritis dan kreatif.
6) Mengasuh dan memelihara pribadi siswa.
7) Mencapai standar yang tinggi.
8) Menggunakan penilaian otentik.
Secara umum pembelajaran berdasarkan tori belajar konstruktivisme meliputi empat tahap. Keempat tahap tersebut menurut Horsley adalah
1) Tahap apersepsi (mengungkapkan konsepsi awal dan membangkitkan motivasi belajar siswa)
2) Tahap eksplorasi
3) Tahap Diskusi dan Penjelasan Konsep, dan
4) Tahap pengembangan aplikasi dan Aplikasi konsep.

c. Perkembangan Teknologi Transportasi
Sama halnya seperti teknologi produksi dan komunikasi, teknologi transportasi pun mengalami perubahan dari masa lalu hingga masa kini. Kita sering mengirim dan menerima pesan, berita, atau informasi, kita sering pepergian dan mengirim barang. Kita dapat saja bepergian dengan jalan kaki dan mengirim barang dengan memikul atau menggendong.
Transportasi, berarti angkutan atau pengangkutan. Trasportasi berarti pula perhubungan. Departemen Perhubungan mengurus perhubungan darat, laut, dan udara. Perhubungan merupakan upaya unutuk memperpendek jarak dan waktu tempuh antara suatu tempat dengan tempat lain antara suatu daerah dan daerah lain. Dengan adanya perhubungan maka tingkat mobilitas manusia, barang dan informasi akan meningkat. Mobilitas menunjukkan gerak, dari suatu tempat ke tempat lain.
Dari masa lalu hingga masa kini, kegiatan trasportasi tidak hanya dilakukan dalam wilayah suatu kota, atau daerah saja. Perhubungan dilakukan juga antarkota atau antardaerah, antarpulau, bahkan antarnegara.
Pada masa lalu, jenis alat angkutan masih terbatas jumlahnya. Misalnya, kuda, gerobak, atau kereta kuda, dan perahu layar. Masa sekarang, terdapat angkutan kota dengan berbagai jenisnya. Angkutan antarderah meliputi bis antarkota antarprovinsi (AKAP), kereta api, feri (penyeberangan), kapal laut (antarpulau) dan pesawat terbang (biasa dan perintis).


c. Implementasi Model dan Pendekatan di SD
Pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), diarahkan ke pemberian kesempatan siswa mengkonstruksi pengetahuan lewat pengalaman-pengalaman belajar bermakna. Sebagai pelengkap dalam mengimplementasikan pendekatan dalam pembelajaran yang memberi kesempatan siswa mengkonstruksi pengetahuannya melalui pemecahan masalah yang menjadi fokus pembelajar IPS dalam KTSP.

2. Hipotesis Tindakan
Adapun hipotesis tindakan yang dapat penulis rumuskan sebagai berikut : “Jika dalam pembelajaran IPS di SD kelas IV menggunakan pendekatan konstruktivisme maka pemahaman konsep siswa dan hasil belajar siswa akan lebih meningkat”.

F. Cara Penelitian
Cara yang ditempuh dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan penelitian tindakan kelas. Penelitian pada dasarnya adalah suatu kegiatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan (penjelasan dan solusi) yang benar tentang suatu masalah (Indraati, 2001 : 4). Yang dilakukan penulis lakikan adalah jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penulis mencoba meneliti tentang penerapan model konstruktivisme dalam pembelajaran IPS di SD kelas IV.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Basuki Wibawa (2003:9) mengemukakan alasan pentingya PTK bagi guru : (1) PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran dikelasnya, (2) PTK dapat meningkatkan kinerja guru, (3) guru mampu memperbaiki proses belajar melalui suatu kajian terhadap apa yang terjadi di kelasnya, (4) pelaksanaan PTK tidak mengganggu tugas pokok seorang guru karena dia tidak perlu meninggalkan kelasnya, (5) guru menjadi kreatif karena selalu dituntut untuk melakukan upaya-upaya inovasi sebagai implementasi dan adaptasi berbagai teori dari teknik pembelajaran serta bahan ajar yang dipakainya.
Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model spiral Keminis dan Mc Taggart dengan melalui beberapa siklus tindakan.

















































Gambar 1 : Spiral Penelitian TIndakan Kelas Kemmis dan Mc Taggart, 1998

MENANGANI ANAK BERKESULITAN BELAJAR

Order Detail
Arsala, siswa Kelas III SD Muhammadiyah Condong Catur, bersama
dengan 34 siswa SD lain, Sabtu (14/5) pagi, tampak asyik mengerjakan
60 soal Standard Progressive Matrices, di Laboratorium Pendidikan
Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.
Setelah lebih kurang satu jam mengerjakan, dia lalu menyerahkan
kertas jawabannya. "Soalnya tadi gampang, tidak terlalu sulit. Saya
mengerjakan semua soal," ujar Arsala yang datang diantar gurunya
pagi itu.
Standard Progressive Matrices (SPM) merupakan satu tes
inteligensi bagi anak-anak usia 7-12 tahun yang mengalami kesulitan
belajar spesifik. SPM ini diteskan pada siswa Kelas II dan III SD,
sedangkan untuk siswa Kelas I, diberikan tes Coloured Progressive
Matrices (CPM).
***

Anak berkesulitan belajar spesifik adalah anak yang mengalami
kesulitan belajar karena ada gangguan persepsi. Mereka sebenarnya
memiliki tingkat inteligensi cukup baik, namun prestasi belajarnya
kurang.
Nur Azizah, terapis yang mendampingi tes menjelaskan,
pemeriksaan psikologis ini ditujukan bagi siswa-siswi SD yang
dianggap mengalami kesulitan belajar di kelas. "Ada lima grade hasil
tes ini, dan grade satu terbaik," ujarnya.
Tin Suharmini MSi, Ketua Laboratorium Pendidikan Luar Biasa
(PLB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengatakan, setelah tes
itu, lalu dianalisis dan dilanjutkan dengan tes Weisler Intelligence
Skill Children (WISC), tes kecerdasan verbal dan performance, untuk
mendeteksi apakah mereka mengalami gangguan persepsi atau tidak.
Ada tiga bentuk kesulitan belajar anak, yakni kesulitan di
bidang matematika atau berhitung (diskalkulia), kesulitan membaca
(disleksia), kesulitan berbahasa (disphasia), dan kesulitan menulis
(disgraphia). Mereka juga kesulitan orientasi ruang dan arah,
misalnya sulit membedakan kiri-kanan, atas-bawah.
Endang Supartini, dosen PLB UNY menambahkan, tanda-tanda
disleksia, antara lain, tidak lancar atau ragu-ragu dalam membaca,
membaca tanpa irama (monoton), dan kesulitan mengeja. Tanda-tanda
disgraphia, misalnya, tulisan sangat jelek, terbalik-balik, dan
sering menghilangkan atau malah menambah huruf. Sedangkan, tanda-
tanda diskalkulia, misalnya kesulitan memahami simbol matematika.
"Misalnya tanda tambah (+) dilihat sebagai tanda kali (x). Atau,
ketika ditanya berapa hasil kali lima dengan lima. Meskipun mereka
menjawab benar, yakni 25, tetapi dalam menuliskannya salah. Bukan
angka 25 yang ditulis, tetapi 52," ujar Endang.
Dosen PLB UNY lain, Heri Purwanto memaparkan, ada dua bentuk
penanganan utama bagi mereka. Pertama, yakni klinik, bila kesulitan
belajar mereka disebabkan faktor internal yang lebih banyak bersifat
neurologis. Kedua, pengajaran remidial, jika kesulitan belajar
mereka disebabkan faktor eksternal dan pascapenanganan klinik.
Peran orangtua dan guru sangat menentukan. Tin menyebut, hampir
90 persen guru dan orangtua belum mengetahui siswa dan anaknya
mengalami kesulitan belajar. SD yang khusus bagi mereka belum ada.

POTENSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN DI KELAS

Order Detail
Oleh: Prof. Dr. H. Mohamad Surya*

Teknologi komunikasi dan informasi dalam pendidikan

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja, (3) dari kertas ke “on line” atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (5) dari waktu siklus ke waktu nyata. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin poluper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001; 28), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu: (1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi, (2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar, (3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional. Saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning Syatem), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb.

Satu bentuk produk TIK adalah internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada glirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan global, perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas.
Di masa-masa mendatang, arus informasi akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian maka pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet sebagai alat bantu utama. Majalah Asiaweek terbitan 20-27 Agustus 1999 telah menurunkan tulisan-tulisan dalam tema "Asia in the New Millenium" yang memberikan gambaran berbagai kecenderungan perkembangan yang akan terjadi di Asia dalam berbagai aspek seperti ekonomi, politik, agama, sosial, budaya, kesehatan, pendidikan, dsb. termasuk di dalamnya pengaruh revolusi internet dalam berbagai dimensi kehidupan. Salah satu tulisan yang berkenaan dengan dunia pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo dengan judul "Rebooting:The Mind Starts at School". Dalam tulisan tersebut dikemukakan bahwa ruang kelas di era millenium yang akan datang akan jauh berbeda dengan ruang kelas seperti sekarang ini yaitu dalam bentuk seperti laboratorium komputer di mana tidak terdapat lagi format anak duduk di bangku dan guru berada di depan kelas. Ruang kelas di masa yang akan datang disebut sebagai "cyber classroom" atau "ruang kelas maya" sebagai tempat anak-anak melakukan aktivitas pembelajaran secara individual maupun kelompok dengan pola belajar yang disebut "interactive learning" atau pembelajaran interaktif melalui komputer dan internet. Anak-anak berhadapan dengan komputer dan melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet untuk memperoleh materi belajar dari berbagai sumber belajar. Anak akan melakukan kegiatan belajar yang sesuai dengan kondisi kemampuan individualnya sehingga anak yang lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan dirinya. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yang lebih kenyal atau lunak dan fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan dan kondisi anak sehingga memberikan peluang untuk terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan baik dalam dimensi waktu maupun ruang dan materi. Dalam situasi seperti ini, guru bertindak sebagai fasilitator pembelajaran sesuai dengan peran-peran sebagaimana dikemukakan di atas.
Dalam tulisan itu, secara ilustratif disebutkan bahwa di masa-masa mendatang isi tas anak sekolah bukan lagi buku-buku dan alat tulis seperti sekarang ini, akan tetapi berupa: (1) komputer notebook dengan akses internet tanpa kabel, yang bermuatan materi-materi belajar yang berupa bahan bacaan, materi untuk dilihat atau didengar, dan dilengkapi dengan kamera digital serta perekam suara, (2) Jam tangan yang dilengkapi dengan data pribadi, uang elektronik, kode sekuriti untuk masuk rumah, kalkulator, dsb. (3) Videophone bentuk saku dengan perangkat lunak, akses internet, permainan, musik, dan TV, (4) alat-alat musik, (5) alat olah raga, dan (6) bingkisan untuk makan siang. Hal itu menunjukkan bahwa segala kelengkapan anak sekolah di masa itu nanti berupa perlengkapan yang bernuansa internet sebagai alat bantu belajar.
Meskipun teknologi informasi komunikasi dalam bentuk komputer dan internet telah terbukti banyak menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif dan produktif, namun di sisi lain masih banyak kelemahan dan kekurangan. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah dengan internetnya itu sendiri dibandingkan dengan materi yang dipelajari. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yang terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Dari aspek informasi yang diperoleh, tidak terjamin adanya ketepatan informasi dari internet sehingga sangat berbahaya kalau anak kurang memiliki sikap kritis terhadap informasi yang diperoleh. Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan internet yang kurang proporsional dapat mengabaikan peningkatan kemampuan yang bersifat manual seperti menulis tangan, menggambar, berhitung, dsb. Dalam hubungan ini guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian pula perlunya kerjasama yang baik dengan orang tua untuk membimbing anak-anak belajar di rumah masing-masing.

Pergeseran pandangan tentang pembelajaran
Untuk dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yang harus diwujudkan yaitu (1) siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru, (2) harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi siswa dan guru, dan (3) guru harus memilikio pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencaqpai standar akademik. Sejalan dengan pesatnya perkembangan TIK, maka telah terjadi pergeseran pandangan tentang pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Dalam pandangan tradisional di masa lalu (dan masih ada pada masa sekarang), proses pembelajaran dipandang sebagai: (1) sesuatu yang sulit dan berat, (2) upoaya mengisi kekurangan siswa, (3) satu proses transfer dan penerimaan informasi, (4) proses individual atau soliter, (5) kegiatan yang dilakukan dengan menjabarkan materi pelajaran kepada satuan-satuan kecil dan terisolasi, (6) suatu proses linear. Sejalan dengan perkembangan TIK telah terjadi perubahan pandangan mengenai pembelajaran yaitu pembelajaran sebagai: (1) proses alami, (2) proses sosial, (3) proses aktif dan pasif, (4) proses linear dan atau tidak linear, (5) proses yang berlangsung integratif dan kontekstual, (6) aktivitas yang berbasis pada model kekuatan, kecakapan, minat, dan kulktur siswa, (7) aktivitas yang dinilai berdasarkan pemenuhan tugas, perolehan hasil, dan pemecahan masalah nyata baik individual maupun kelompok.
Hal itu telah menguban peran guru dan siswa dalam pembelajaran. Peran guru telah berubah dari: (1) sebagai penyampai pengetahuan, sumber utama informasi, akhli materi, dan sumber segala jawaban, menjadi sebagai fasilitator pembelajaran, pelatih, kolaborator, navigator pengetahuan, dan mitra belajar; (2) dari mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, menjadi lebih banyak memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung jawab kepada setiap siswa dalam proses pembelajaran. Sementara itu peran siswa dalam pembelajaran telah mengalami perubahan yaitu: (1) dari penerima informasi yang pasif menjadi partisipan aktif dalam proses pembelajaran, (2) dari mengungkapkan kembali pengetahuan menjadi menghasilkan dan berbagai pengetahuan, (3) dari pembelajaran sebagai aktiivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif dengan siswa lain.
Lingkungan pembelajaran yang di masa lalu berpusat pada guru telah bergesar menjadi berpusat pada siswa. Secara rinci dapat digambarkan sebagai berikut:

Lingkungan Berpusat pada guru Berpusat pada siswa
Aktivitas kelas Guru sebagai sentral dan bersifat didaktis Siswa sebagai sentral dan bersifat interaktif
Peran guru Menyampaikan fakta-fakta, guru sebagai akhli Kolaboratif, kadang-kadang siswa sebagai akhli
Penekanan pengajaran Mengingat fakta-fakta Hubungan antara informasi dan temuan
Konsep pengetahuan Akumujlasi fakta secara kuantitas Transformasi fakta-fakta
Penampilan keberhasilan Penilaian acuan norma Kuantitas pemahaman , penilaian acuan patokan
Penilaian Soal-soal pilihan berganda Protofolio, pemecahan masalah, dan penampilan
Penggunaan teknologi Latihan dan praktek Komunikasi, akses, kolaborasi, ekspresi


Kreativitas dan kemandirian belajar

Dengan memperhatikan pengalaman beberapa negara sebagaimana dikemukakan di atas, jelas sekali TIK mempunyai pengaruh yang cukup berarti terhadap proses dan hasil pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. TIK telah memungkinkan terjadinya individuasi, akselerasi, pengayaan, perluasan, efektivitas dan produktivitas pembelajaran yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas pendidikan sebagai infrastruktur pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Melalui penggunaan TIK setiap siswa akan terangsang untuk belajar maju berkelanjutan sesuai dengan potensi dan kecakapan yang dimilikinya. Pembelajaran dengan menggunakan TIK menuntut kreativitas dan kemandirian diri sehingga memungkinkan mengembangkan semua potensi yang dimilikinya..
Dalam menghadapi tantangan kehidupan modern di abad-21 ini kreativitas dan kemandirian sangat diperlukan untuk mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan. Kreativitas sangat diperlukan dalam hidup ini dengan beberapa alasan antara lain: pertama, kreativitas memberikan peluang bagi individu untuk mengaktualisasikan dirinya, kedua, kreativitas memungkinkan orang dapat menemukan berbagai alternatif dalam pemecahan masalah, ketiga, kreativitas dapat memberikan kepuasan hidup, dan keempat, kreativitas memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Dari segi kognitifnya, kreativitas merupakan kemampuan berfikir yang memiliki kelancaran, keluwesan, keaslian, dan perincian. Sedangkan dari segi afektifnya kreativitas ditandai dengan motivasi yang kuat, rasa ingin tahu, tertarik dengan tugas majemuk, berani menghadapi resiko, tidak mudah putus asa, menghargai keindahan, memiliki rasa humor, selalu ingin mencari pengalaman baru, menghargai diri sendiri dan orang lain, dsb. Karya-karya kreatif ditandai dengan orisinalitas, memiliki nilai, dapat ditransformasikan, dan dapat dikondensasikan. Selanjutnya kemandirian sangat diperlukan dalam kehidupan yang penuh tantangan ini sebab kemandirian merupakan kunci utama bagi individu untuk mampu mengarahkan dirinya ke arah tujuan dalam kehidupannya. Kemandirian didukung dengan kualitas pribadi yang ditandai dengan penguasaan kompetensi tertentu, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif dalam berfikir dan bertindak, mampu mengendalikan dirinya, dan memiliki komitmen yang kuat terhadap berbagai hal.
Dengan memperhatikan ciri-ciri kreativitas dan kemandirian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa TIK memberikan peluang untuk berkembangnya kreativitas dan kemandirian siswa. Pembelajaran dengan dukungan TIK memungkinkan dapat menghasilkan karya-karya baru yang orsinil, memiliki nilai yang tinggi, dan dapat dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan yang lebih bermakna. Melalui TIK siswa akan memperoleh berbagai informasi dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam sehingga meningkatkan wawasannya. Hal ini merupakan rangsangan yang kondusif bagi berkembangnya kemandirian anak terutama dalam hal pengembangan kompetensi, kreativitas, kendali diri, konsistensi, dan komitmennya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain.


Peran guru

Semua hal itu tidak akan terjadi dengan sendirinya karena setiap siswa memiliki kondisi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Siswa memerlukan bimbingan baik dari guru maupun dari orang tuanya dalam melakukan proses pembelajaran dengan dukungan TIK. Dalam kaitan ini guru memegang peran yang amat penting dan harus menguasai seluk beluk TIK dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. Peran guru sebagai pemberi informasi harus bergeser menjadi manajer pembelajaran dengan sejumlah peran-peran tertentu, karena guru bukan satu-satunya sumber informasi melainkan hanya salah satu sumber informasi. Dalam bukunya yang berjudul “Reinventing Education”, Louis V. Gerstmer, Jr. dkk (1995), menyatakan bahwa di masa-masa mendatang peran-peran guru mengalami perluasan yaitu guru sebagai: pelatih (coaches), konselor, manajer pembelajaran, partisipan, pemimpin, pembelajar, dan pengarang. Sebagai pelatih (coaches), guru harus memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing. Guru hanya memberikan prinsip-prinsip dasarnya saja dan tidak memberikan satu cara yang mutlak. Hal ini merupakan analogi dalam bidang olah raga, di mana pelatih hanya memberikan petunjuk dasar-dasar permainan, sementara dalam permainan itu sendiri para pemain akan mengembangkan kiat-kiatnya sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada. Sebagai konselor, guru harus mampu menciptakan satu situasi interaksi belajar-mengajar, di mana siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang kondusif dan tidak ada jarak yang kaku dengan guru. Disamping itu, guru diharapkan mampu memahami kondisi setiap siswa dan membantunya ke arah perkembangan optimal. Sebagai manajer pembelajaran, guru memiliki kemandirian dan otonomi yang seluas-luasnya dalam mengelola keseluruhan kegiatan belajar-mengajar dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang pembelajaran. Sebagai partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi juga berperilaku belajar dari interaksinya dengan siswa. Hal ini mengandung makna bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi anak, akan tetapi ia sebagai fasilitator pembelajaran siswa. Sebagai pemimpin, diharapkan guru mampu menjadi seseorang yang mampu menggerakkan orang lain untuk mewujudkan perilaku menuju tujuan bersama. Disamping sebagai pengajar, guru harus mendapat kesempatan untuk mewujudkan dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan lain di luiar mengajar. Sebagai pembelajar, guru harus secara terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya. Sebagai pengarang, guru harus selalu kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Guru yang mandiri bukan sebagai tukang atau teknisi yang harus mengikuti satu buku petunjuk yang baku, melainkan sebagai tenaga yang kreatif yang mampu menghasilkan berbagai karya inovatif dalam bidangnya. Hal itu harus didukung oleh daya abstraksi dan komitmen yang tinggi sebagai basis kualitas profesionaliemenya.

--------------
*) Guru Besar UPI Bandung/Ketua Umum PB PGRI/Anggota DPD-RI
Makalah dalam Seminar ”Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Jarak Jauh dalam Rangka Peningkatan Mutu Pembelajaran”, diselenggarakan oleh Pustekkom Depdiknas, tanggal 12 Desember 2006 di Jakarta.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. el_shalih blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger Template