PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Kurikulum Pembelajaran






Disusun oleh :
Dini Nurfitriani (0804202)
Finarti Ayundari (0801546)
Neng Nurainah (0802030)
Rismayanti F (0803214)
Subhi Ashalih (0801542)
Kelompok IV
2 A


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS CIBIRU
2010


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan rahmat hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Kurikulum Pembelajaran dengan judul “Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum “
Dalam pembuatan makalah ini penulis berusaha menjelaskan bagaimana prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum untuk dijadikan acuan dalam menentukan berbagai hal yang terkait dengan pengembangan kurikulum . Selama pembuatan makalah ini,penulis tidak lepas dari kesulitan dan hambatan yang dihadapi. Akan tetapi,berkat bantuan,bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak maka penulis dapat menyelesaikannya.
Penulis menyadari bahwa pembuatan makalah ini masih jauh dari apa yang dikatakan sempurna oleh karena keterbatasan ilmu pengetahuan yang penulis miliki. Oleh sebab itu, penulis mohon maaf apabila dalam pembuatan makalah ini terdapat banyak kekurangan dan tidak lupa harapan penulis semoga makalah ini dapat berguna bagi semua pihak.

Bandung, Maret 2010
Penulis











DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .i
DAFTAR ISI .ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Penulisan 2
D. Kegunaan Makalah 2
E. Prosedur Makalah 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Prinsip Pengembangan Kurikulum 3
B. Macam-macam Sumber Prinsip pengembangan Kurikulum 4
C. Tipe-tipe Prinsip Pengembangan Kurikulum 5
D. Macam-macam Prinsip Pengembangan Kurikulum 6
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 16
B. Saran 17
DAFTAR PUSTAKA













BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebelum mealangkah lebih jauh ke pembahasan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum, bagaimana konsep kurikulum. Kita tentunya sudah mengetahui bagaimana konsep kurikulm tersebut.Dari pendapat penulis dapat dikatakan bahwa kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah. Dalam kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan atau ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat pendidikan, politikus, pengusaha, orang tua peserta didik serta unsur-unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan. Rancangan ini disusun dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses pembimbingan perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendiri, keluarga, maupun masyarakat.

Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan,dan hasil-hasil kurikulum itu pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum (Rahmat, 2009: 22).

Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan kurikulum.

Sejalan dengan permasalahan tersebut maka penulis tertarik untuk membuat makalah dengan judul “ Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum” . makalah ini mengemukakan suatu pandangan tentang bagaimana prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yamg harus diberlakukan untuk mencapai tujuan dari pengembangan itu sendiri.

B. Rumusan Masalah

Sejalan dengan latar belakang tersebut, rumusan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian prinsip pengembangan kurikulum?
2. Apa saja sumber-sumber prinsip pengembangan kurikulum ?
3. Bagaimana pemgembangan kurikulum di lakukan dengan adanya prinsip-prinsip pengembangannya ?

C. Tujuan Penulisan

Makalah ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui bagaimana prinsip-prinsip pengembangan kurikum.
2. sebagai pegangan untuk di jadikan sumber atau bahan pengetahuan
3. memperluas wawasan

D. Kegunaan Makalah

Secara teoritis, makalah ini memiliki kegunaan untuk mengetahui bagaimana prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum yang dijadikan patokan dalam menentukan berbagai hal yang terkait dalam upaya pengembangan kurikulum dan tentunya untuk menambah pengetahuan kita.

E. Prosedur Makalah

Dalam penyusunan makalah ini penulis menggunakan metode studi Deskriftif, yang menjelaskan mulai dari pengertian sampai kepada macam-macam prinsip pengembangan kurikulum. Sedangkan teknik yang digunakan adalah studi pustaka dengan mencari sumber atau bahan dari perpustakaan maupun buku lain serta melalui teknologi internet.
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

Secara gramatikal prinsip bararti asas, dasar, keyakinan, dan pendirian. Dari pengertian di atas tersirat makna bahwa kata prinsip itu menunjukan pada suatu hal yang sangat penting, mendasar, harus di perhatikan, memiliki sifat mengatur dan mengarahkan, sarta sesuatu yang biasanya selalu ada atau terjadi pada situasi dan kondisi yang serupa. Dari pengertian dan makna prinsip di atas, terlihat bahwa itu memiliki fungsi yang sangat penting dalam kaitannya dengan keberadaan sesuatu. Dengan mengenali dan memperhatikan prinsip, maka akan bisa menjadikan sesuatu itu kebih efeltif dan efisien. Prinsip juga mencerminkan tentang hakikat yang dikandung oleh sesuatu, mungkin produk atau proses, dan bersifat memberikan rambu-rambu aturan main yang jelas, yang harus diikuti untuk mencapai tujuan yang benar.

Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum.

Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum menunjuk pada pengertian tentang berbagai hal yang harus dijadikan sebagai patokan dalam menentukan berbahai hal yang terkait dengan pengembangan kurikulum, terutama dalam fase perencanaan kurikulum yang pada dasarnya prinsip-prinsip tersebut merupakan ciri dan hakikat kurikulum itu sendiri. Esensi dari pengembangan kurikulam adalah proses identifikasi, analisis, sintesis, evaluasi, pengambilan keputusan dan kreasi elemen-elemen kurikulam. Agar pengembangan kurikulum itu bisa berjalan secara efektif dan efisien, maka dalam bekerjanya para pengembang harus memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan kurikulam. Denagn merujuk pada prinsip-prinsip pengembangan kurikulam, para pengembang kurikulam akan bisa bekerja secara smantap, teararah, dan dengan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan. Selain dari pada itu, adanya berbagai prinsip dalam kurikulum dan pengembangannya merupakan suatu cirri bahwa kurikulum itu merupakan suatu area atau suatu lapangan study.

B. MACAM-MACAM SUMBER PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

Sumber prinsip yaitu dari mana asal muasal terlahirnya suatu prinsip. Setidaknya ada empat sumber prinsip pengembangan kurikulum , yaitu sebagai berikut :
1. Data empiris
Data empiris merujuk pada pengalaman terdokumentasi dan terbukti efektif.
2. Data eksperimen
Data eksperimen merujuk pada temuan-temuan hasil penelitian. Dat hasil temuan merupakan data yang dipandang valid dan reliable, sehingga tingkat kebenarannta meyakinkan untuk dijadikan prinsip dalam pengembangan kurikulum.

3. Cerita atau legenda yang hidup di masyarakat
Selain dari data-data lainnya, Banyak data hasil penelitian (hard data) sifatnya sangat terbatas, disamping itu banyak data-data lain yang diperoleh bukan dari hasil peelitian yang digunakan juga terbukti untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan yang komplek diantaranya yaitu adat istiadat yang hidup di masyarakat (folklore of curriculum).

4. Akal sehat (common of sense)
Selain dari itu, data yang di peroleh dari penelitian sendiri digunakan setelah melalui proses pertimbangan dan penilaian akal sehat terlebih dahulu.



C. TIPE-TIPE PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

Tipe-tipe prinsip pengembangan kurikulum yaitu tingkat validitas dan reliabilitas prinsip yang digunakan. Hal ini ada kaitannya dengan sumber dari prinsip pengembangan kurikulum itu sendiri. Ada fakta, data, konsep, dan prinsip tingkat kepercayaannya tidak diragukan lagi kartena sudah terbukti melalui uji riset yang berulang-ulang, ada juga data yang sudah terbukti tapi masih terbatas dalam kasus-kasus tertentu belum bias digeneralisasikan, dan terdapat pula data yang belum dibuktyikan ola\eh riset tapi sudah terbukti dalam kehidupandan menurut pertimbangan akal sehat dipandang logis, baik, dan berguna.
Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum bias di klasifikasu\ikan menjadi tiga tipe prinsip yaitu :
1. Anggapan utuh atau menyeluruh (whole trusth)
Anggapan utuh atau menyeluruh adalah fakta, konsep, dan prinsip yang diperoleh dan telah diuji dalam penelitian yang ketat dan berulang sehingga bias dibuat generalisasi dan bias mendapat tantangan atau kritik karena sudah diyakini oleh orang-orang yang terlibat dalam pengembangan kurikulum.

2. Anggapan kebenaran parsial (partial truth)
Anggapan kebenaran parsial yaitu sutau fakta, konsep, dan prinsip yang sudah terbukti efektif dalam banyak kasus tapi sifatnya masih belum bisa digeneralisasikan, karena dianggap baik dan bermanfaat.

3.Anggapan kebenaran yang masih memerlukan pembuktian (hypothesis)
Hipotesis yaitu asumsi karja atau prinsip yang sifatnya tentative atau masih dalam kesimpulan yang sementara dan muncul dari pemikiran akal sehat.

D. MACAM-MACAM PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

Wina Sanjaya (2008: 39) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu: relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas. Prinsip tersebut juga diajukan oleh Abdullah idi (2007: 179-182) dan Asep Herry Hernawan dkk (dalam Rahmat 2009: 22). Sementara Nana Syaodih Sukmadinata (2009: 150-155) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum dengan membaginya ke dalam dua kelompok: (1) prinsip-prinsip umum (sama dengan Herdawan dkk); dan (2) prinsip-prinsip khusus, yaitu: prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian). Berikut ini adalah uraian lebih lanjut dari prinsip-prinsip tersebut dengan mengikuti alur klasifikasi yang di ajukan oleh Nana Syaodih.


1. Prinsip-prinsip Umum Pengembangan Kurikulum
Agar kurikulum dapat berfungsi sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan, maka ada sejumlah prinsip dalam proses pengembangannya. Di bawah ini akan diuraikan prinsip-prinsip umum dalam pengembangan kurikulum.

A. Prinsip Relevansi
Kurikulum merupakan rel-nya pendidikan untuk membawa siswa agar dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat serta membekali siswa baik dalam bidang pengetahuan, sikap maupun keterampilan sesuai dengan tuntutan dan harapan masyarakat. Oleh sebab itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disusun dalam kurikulum harus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Inilah yang disebut dengan prinsip relevansi. Prinsip relevansi adalah prinsip kesesuaian. Ada dua macam relevansi, yaitu :
1. Relevansi internal
Relevansi internal adalah bahwa setiap kurikulum harus memiliki keserasian antara komponen-komponennya, yaitu keserasian antara tujuan yang harus dicapai, isi, materi atau pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa, strategi atau metode yang digunakan serta alat penilaian untuk melihat ketercapaian tujuan. Relevansi internal ini menunjukkan keutuhan suatu kurikulum.
2. Relevansi eksternal
Relevansi eksternal berkaitan dengan keserasian antara tujuan, isi, dan proses belajar siswa yang tercakup dalam kurikulum dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.

Ada tiga macam relevansi eksternal dalam pengembangan kurikulum:
a. Relevan dengan lingkungan hidup peserta didik (relevansi sosiologis).
Bisa diartikan bahwa proses pengembangan dan penetapan isi kurikulum hendaklah disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar siswa. Contohnya untuk siswa yang ada di perkotaan perlu diperkenalkan kehidupan di lingkungan kota, seperti keramaian dan rambu-rambu lalu lintas; tata cara dan pelayanan jasa bank, kantor pos, dan lain sebagainya. Demikian juga untuk sekolah yang berada di daerah pantai, perlu diperkenalkan bagaimana kehidupan di pantai, seperti mengenai tambak, kehidupan nelayan, koperasi, pembibitan udang, dan lain sebagainya.

b. Relevan dengan perkembangan zaman baik sekarang maupun dengan yang akan datang
Bisa diartikan bahwa relevansi harus sesuai dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis). Artinya, isi kurikulum harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang berkembang. Selain itu juga apa yang diajarkan kepada siswa harus bermanfaat untuk kehidupan siswa pada waktu yang akan datang. Misalkan untuk kehidupan yang akan datang, penggunaan komputer dan Internet akan menjadi salah satu kebutuhan, maka dengan demikian bagaimana cara memanfaatkan komputer dan bagaimana cara mendapatkan informasi dari Internet sudah harus diperkenalkan kepada siswa. Demikian juga dengan kemampuan berbahasa. Pada masa yang akan datang ketika pasar bebas seperti persetujuan APEC mulai berlaku, maka masyarakat akan dihadapkan kepada persaingan merebut pasar kerja dengan orang-orang asing. Oleh karenanya keterampilan berbahasa asing sudah harus mulai dipupuk sejak sekarang.

c. Relevan dengan tuntutan dunia pekerjaan dan tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis)
Artinya bahwa apa yang diajarkan di sekolah harus mampu memenuhi dunia kerja. Untuk sekolah kejuruan contohnya, kalau dahulu di Sekolah Kejuruan Ekonomi dilatih bagaimana agar siswa mampu menggunakan mesin tik sebagai alat untuk keperluan surat-menyurat, maka sekarang mesin tik sudah tidak banyak digunakan, akan tetapi yang lebih banyak digunakan komputer. Dengan demikian, keterampilan mengoperasikan komputer harus diajarkan.
Untuk memenuhi prinsip relevansi ini, maka dalam proses pengembangannya sebelum ditentukan apa yang menjadi isi dan model kurikulum yang bagaimana yang akan digunakan, perlu dilakukan studi pendahuluan dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan seperti melakukan survei kebutuhan dan tuntutan masyarakat; atau melakukan studi tentang jenis-jenis pekerjaan yang dibutuhkan oleh setiap lembaga atau instansi.

B. Prinsip Fleksibilitas
Prinsip fleksibilitas artinya bahwa kurikulum itu harus lentur dan tidak kaku, terutama dalam hal pelaksanaannya, dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar apa yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.
Apa yang diharapkan dalam kurikulum ideal kadang-kadang tidak sesuai dengan kondisi kenyataan yang ada. Bisa saja ketidaksesuaian itu ditunjukkan oleh kemampuan guru yang kurang, latar belakang atau kemampuan dasar siswa yang rendah, atau mungkin sarana dan prasarana yang ada di sekolah tidak memadai. Kurikulum harus bersifat lentur atau fleksibel. Artinya, kurikulum itu harus bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada. Kurikulum yang kaku atau tidak fleksibel akan sulit diterapkan.
Prinsip fleksibilitas memiliki dua sisi:
1. fleksibel bagi guru, yang artinya kurikulum harus memberikan ruang gerak bagi guru untuk mengembangkan program pengajarannya sesuai dengan kondisi yang ada.
2. fleksibel bagi siswa, artinya kurikulum harus menyediakan berbagai kemungkinan program pilihan sesuai dengan bakat dan minat siswa.

C. Prinsip Kontinuitas
Prinsip kontinuitas yaitu adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
Prinsip ini mengandung pengertian bahwa perlu dijaga saling keterkaitan dan kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai jenjang dan jenis program pendidikan. Dalam penyusunan materi pelajaran perlu dijaga agar apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu materi pelajaran pada jenjang yang lebih tinggi telah diberikan dan dikuasai oleh siswa pada waktu mereka berada pada jenjang sebelumnya.
Prinsip ini sangat penting bukan hanya untuk menjaga agar tidak terjadi pengulanganpengulangan materi pelajaran yang memungkinkan program pengajaran tidak efektif dan efisien, akan tetapi juga untuk keberhasilan siswa dalam menguasai materi pelajaran pada jenjang pendidikan tertentu.
Untuk menjaga agar prinsip kontinuitas itu berjalan, maka perlu ada kerja sama antara pengembang kurikulum pada setiap jenjang pendidikan, misalkan para pengembang pendidikan pada jenjang sekolah dasar, jenjang SLTP, jenjang SLTA, dan bahkan dengan para pengembang kurikulum di perguruan tinggi.

D. Prinsip Efektifitas
Prinsip efektivitas merujuk pada pengertian kurikulum itu selalu berorientasi pada tujuan tertentu yang ingin dicapai. Kurikulum bias dikatakan sebagai instrument untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, jenis dan karakteristik tujuan apa yang ingin dicapai harus jelas. Kejelasan tujuan akan mengarahkan pada pemilihan dan penentuan isi, metode dan system evaluasi serta model kurikulum apa yang akan digunakan juga akan mempermudah dan mengarahkan dalam implementasi kue\rikulu itu sendiri. Prinsip efektifitas mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas. Prinsip efektivitas berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum dapat dilaksanakan dan dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar.
Terdapat dua sisi efektivitas dalam suatu pengembangan kurikulum.
Pertama, efektivitas berhubungan dengan kegiatan guru dalam melaksanakan tugas mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas. Kedua, efektivitas kegiatan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar. Efektivitas kegiatan guru berhubungan dengan keberhasilan mengimplementasikan program sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Sebagai contoh, apabila guru menetapkan dalam satu caturwulan atau satu semester harus menyelesaikan 12 program pembelajaran sesuai dengan pedoman kurikulum, ternyata dalam jangka waktu tersebut hanya dapat menyelesaikan 4 atau 5 program saja, berarti dapat dikatakan bahwa pelaksanaan program itu tidak efektif.
Efektivitas kegiatan siswa berhubungan dengan sejauh mana siswa dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan sesuai dengan jangka waktu tertentu. Sebagai contoh apabila ditetapkan dalam satu caturwulan siswa harus dapat mencapai sejumlah tujuan pembelajaran, ternyata hanya sebagian saja dapat dicapai siswa, maka dapat dikatakan bahwa, proses pembelajaran siswa tidak efektif.


E. Prinsip Efisiensi
Prinsip efisiensi yaitu mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
Prinsip efisiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu, suara, dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh.
Kurikulum dikatakan memiliki tingkat efisiensi yang tinggi apabila dengan sarana, biaya yang minimal dan waktu yang terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal. Betapa pun bagus dan idealnya suatu kurikulum, manakala menuntut peralatan, sarana dan prasarana yang sangat khusus serta mahal pula harganya, maka kurikulum itu tidak praktis dan sukar untuk dilaksanakan. Kurikulum harus dirancang untuk dapat digunakan dalam segala keterbatasan..
Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
2. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
5. Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
6. Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemenuhan prinsip-prinsip di atas itulah yang membedakan antara penerapan satu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan kurikulum sebelumnya, yang justru tampaknya sering kali terabaikan. Karena prinsip-prinsip itu boleh dikatakan sebagai ruh atau jiwanya kurikulum
Dalam mensikapi suatu perubahan kurikulum, banyak orang lebih terfokus hanya pada pemenuhan struktur kurikulum sebagai jasad dari kurikulum . Padahal jauh lebih penting adalah perubahan kutural (perilaku) guna memenuhi prinsip-prinsip khusus yang terkandung dalam pengembangan kurikulum. Yaitu :
a. Berpusat Pada Potensi, Perkembangan, Kebutuhan, dan Kepentingan Peserta Didik dan Lingkungannya
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.

b. Beragam dan Terpadu
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
c. Tanggap Terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
d. Relevan dengan Kebutuhan Kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
e.Menyeluruh dan Berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
f. Belajar Sepanjang Hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.

g. Seimbang Antara Kepentingan Nasional dan Kepentingan Daerah
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Masih dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip umum pengembangan kurikulum, Olivia (1992:31-45) mengemukakan pandangannya mengenai kabaradaan pendidikan atau kurikulum dalam kaitqannya dengan masyarakat, serta implikasinya bagi keberadaan kurikulum dan pekerjaan para pengembang kurikulum, juga menyangkut pentingnya prinsip-pronsip pentingnya pengembangan kurikulum bagi para pengembang kurikulum. Olivia menjelaskan bahwa apa yang kita sebut dengan system pendidikan yang didalamnya termasuk kurikulum semastinya memberikan respon terhadap perubahan kondisi yang terjadi pada supra system yaitu masyarakat. Terjadi perubahan kurikulum merupakan hal yang normal, bahkan perubahan kurikulum itu diperlukan sebagai konsekwensi dari adanya perubahan lingkungan.
Tugas dan tanggung jawab adari para pengembang kurikulum akan dipermudah jika mengikuti prinsip-prinsip pengembangan kurikulum. Dalam hal ini Olivia mengajukan sepuluh prinsip (axiom) pengembangan kurikulum, yaitu :
a. Perubahan kurikulum adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dan bahkan diperlukan.
b. Kurikulum merupakan produk dari masa yang berkelanjutan.
c. Perubahan kurikulum masa lalu sering sering terdapat secara bersamaan bahkan tumpang tindih dengan perubahan kurikulum masa kini.
d. Perubahan kurikulum akan terjadi dan berhasil sebagai akibat dan jika ada perubahan pada orang-orang atau masyarakat.
e. Pengembangan kurikulum adalah kegiatan kerjasama kelompok.
f. Pengembangan kurikulum pada dasarnya adalah proses menentukan pilihan dari sekian alternative yang ada.
g. Pengembangan kirikulum adalah kegiatan yang tidak akan pernah berakhir.




h. Pengembangan kurikulum akan barhasil jika dilakukan dengan komprehensif, bukan aktivitas bagian perbagian yang terpisah.
i. Pengembangan kurikulum akan lebih nefektif jika dilakukan dengan mengikuti suatu proses yang sistematis.
j. Pengembangan kurikulum dilakukan barangkat dari kurikulum yang ada.

2. Prinsip-prinsip Khusus Pengembangan Kurikulum
Prinsip khusus ini merujuk pada prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan komponen-komponen kurikulum secara khusus yang didalamnya terdapat tujuan, is, metode, dan evaluasi.
1. Prinsip yang berkenaan dengan tujuan
Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada :
- Ketentuan dan kebijakan pemerintah yang dapat ditemukam dalam dokumen-dokumen lembaga Negara mengenai tujuan dan strategi pembangunan termasuk di dalamnya pendidikan.
- Survai mengenai persepsi orang tua dan masyarakat tentang kebutuhan mereka yand dikirimkan melalui angket atau wawancara dengan mereka.
- Survai tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidangtertentu, dihimpun melalui angket, wawancara, observasi dan dari berbagai media massa.
- Survai tentang manpower (sumber daya manusia atau tenaga kerja)
- Pengalaman Negara-negara lain dalam masalah yang sama.
- Penelitian.

2. Prinsip yang berkenan dengan pemilhan isi
Beberapa pertimbangan yang perlu dilakukan untuk menentukan isi pendidikan atau kurikulum, yaitu :
- Perlu penjabaran tujuan pendidikan atau pengajaran ke dalam perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana.
- Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap dan keterampilan.
- Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis.

3. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar
Untuk menentukan kegiatan proses belajar mengajar apa yang akan digunakan harus memperhatikan hal-hal berikut :
- Metode atau teknik mengajar yang digunakan harus cocok untuk mengajarkan bahan pelajaran.
- Metode atau teknik tersebut harus dapat memberikan kegiatan yang bervariasi untuk melayani perbedaan individual siswa.
- Metode atau teknik tersebut harus dapat memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat
- Metode atau teknik tersebut harus dapat menciptakan pencapaian kea rah kognitif, afektif dan psikomotor.
- Metode atau teknik harus lebih mengaktifkan siswa maupun gurunya.
- Metode atau teknik tersebut harus mendorong berkembangnya kemampuan baru.
- Metode atau teknik harus menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah dan di rumah.
4. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran
Beberapa prinsip yang bias dijadikan pegangan untuk memilih dan menggunakan media dan alat bantu pembelajaran.
- Alat atau media apa yang dibutuhkan dan apakah semuanya sudah tersedia ?
- Bagaimana pengorganisasian alat dalam bahan pelajaran.
- Bagaimana pengintegrasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar?
- Hasil yang ter baik akan diperoleh dengan menggunakan multi media.

5. Prinsip yang berkenaan dengan penilaian
Ada tiga fase yang harus diperhatikan ketika akan membuat alat tes, yaitu :
a. fase perencanaan penilaian
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam fase perencanaan penilaian,yaitu:
- Bagaimanakah karakteristik kelas, usia, tingkat kemampuan kelompok yangakan di tes ?
- Berapa lama waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan tes ?
- Apakah tes tersebut berbentuk uraian atau oilihan ?
- Berapa banyak butir tes yang perlu disusun ?
- Apakah tes tersebut diaministrasikan oleh guru atau murid ?




b. Menyusun alat penilaian
Dalam penyusunann alat penilaian sebaiknya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
- Rumuskan tujuan-tujuan pendidikan yang umum dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
- Uraikan ke dalam bentuk tingkah laku murid yang dapat diamati.
- Hubungkan dengan bahan pelajaran.
- Tuliskan butir-butir tes.

c. Pengelolaan hasil penilaian
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan hasil penilaian sebagai berikut :
- Norma penilaian apa yang akan digunakan dalam pengelolaan hasil tes ?
- Apakah digunakan formula guessing ?
- Bagaimana pengubahan skor ke dalam skor masak ?
- Untuk apakah hasil tes digunakan ?






















BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari pembahasan BAB II diatas maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Prinsip pengenbangan kurikulum adalah asas, dasar, keyakinan, dan pendirian juga merupakan kaidah-kaidah yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru.
2. Sumber prinsip pengembangan kurikulum adalah data empiris, data eksperimen, cerita atu legenda yang ada di masyarakat, dan akal sehat.
3. Tipe prinsip pengembangan kurikulum yaitu anggapan utuh atua menyeluruh (whoke truth), anggapan parsial (partial truth), dan anggaoan kebenaran poembuktisn (hypothesis).
4. Prinsip pengembangan kurikulum terbagi ke dalam prinsip umum yang terdidi dari prinsip relevansi, prinsip fleksibilitas, prinsip kontinuitas, prinsip efisiensi, dan prinsip efektifitas. Serta prinsip khusus yang terdidi dari prinsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip yang berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip yang berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip yang berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran serta prinsip yang berkenaan dengan penilaian.

B. SARAN
1. Pendidik harus mengetahui prinsip-prinsip kurikulum.
2. Pendidik melaksanakan pengajarannya sesuai dengan prinsip-prinsip kurikulum yang berlaku.
3. Sebagai siswa harus bisa berpartisipasi aktif dalam pengembangan kurikulum,khususnya dalam program pembelaran maupun pendidikan agar tujuan pendidikan yang diharapkan bisa tercapai dengan optimal.







DAFTAR PUSTAKA

Syaodih, Nana (2000.150-151). Kurikulum pembelajaran. Bandung : Jurusan Kutekpen FIP UPI.

Susilana, Rudi dkk. 2006. Kurikulum pembelajaran. Bandung : Jurusan Kutekpen FIP UPI.

http://vandha.wordpress.com/kail-pendidikan/artikel-dan-makalah/prinsip-pengembangan-kurikulum/. Online [22 Februari 2010].

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/prinsip-pengembangan-kurikulum/.online.[25 februari 2010].

http://sublianto.blogspot.com/2010/02/prinsip-pengembangan/kurikuilum.html.online [01 maret 2010].

Related product you might see:

Share this product :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. el_shalih blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger Template